13. AZAS USAHA DAKWAH DAN TABLIGH

.  Usaha melalui individu atau usaha berjamaah dan bukan usaha ijtima besar-besaran. Usaha dakwah ini tidak mengandalkan bayan atau ceramah atau kefasihan dalam berbicara akan tetapi kerja, zuhud. Inilah usaha yang mesti dikerjakan oleh setiap individu, atau mesti dilakukan dalam berjamaah.

2.     Usaha melalui hati dan bukan pikiran. Sejauh mana hatimu menangis, sejauh mana hatimu risau atau sejauh mana terbakarnya hati, atau sejauh mana risaunya hati bukan bagaimana pemikiranmu bekerja, atau bagaimana pemikiranmu membuat rancangan, atau bukan bagaimana pemikiranmu membuat rencana atau bukan bagaimana pemikiran filosofi yang tinggi-tinggi untuk mendapatkan gagasan-gagasan.

3.     Usaha melalui qadam dan bukan kalam. Azas usaha ini adalah pergerakan kaki dan bukan penamu. Sejauhmana kakimu bergerak, sejauh mana anda bergerak melalui kaki-kakimu. Sebab anda mesti pergi kepada khalayak ramai. Mereka yang sudah datang ke mesjid mereka mencintai agama. Sedangkan mereka yang belum datang ke mesjid belum mencintai agama. Oleh karena itu maksud dakwah adalah untuk orang-orang ini. Jamaah yang sudah datang ke mesjid kita beri ta’lim. Usaha ta’lim dengan duduk dalam majlis. Akan tetapi dakwah dengan terjun ke bawah, kita datang dari orang ke orang, dari toko ke toko, maksudnya sejauh mana anda bergerak dengan kaki-kakimu, karena kerja ini bukanlah kerja ‘sastrawan’. Anda harus berenang dalam lautan manusia, menyelam dalam laut dan mendapatkan mutiara-mutiara. Kita berusaha mendapatkan sedemikian orang yang dapat menerima fikir iman dan amal.

4.      Usaha melalui Jan dan bukan Mal, usaha melalui diri bukan harta. Mal (harta) adalah keperluan bagi kita, mal untuk kesenangan kita. Sebagai umpama: jika anda hendak menghafalkan surat Fathihah, apakah anda mesti membelanjakan ratusan ribu atau jutaan rupiah untuk menghafal? Tentu tidak! yang diperlukan adalah masa dan kesungguhan. Karena itu tasykil (ajakan) kita adalah orangnya bukan uangnya atau hartanya. Apabila anda hendak mentasykil, seseorang katakan bahwa “kami memerlukan diri anda dan bukan uang anda”.

5.      Usaha dengan tawadhu dan bukan aninah. Azas usaha dakwah adalah merendah diri dan bukan sombong atau membanggakan diri. Sombong adalah sifat syaitan. Kita mesti merasa tidak ada apa-apanya. Saya ini kecil. Kita mesti merendah. Sebagaimana pohon apabila sarat dengan buahnya maka ia merunduk. Atau seperti timba apabila hendak menimba air, maka harus dicemlungkan. Demikian pula apabila anda hendak merunduk hatinya maka anda akan dapat buat usaha dalam semua kalangan masyarakat, jika tidak anda akan mengalami berbagai kesulitan.

6.      Usaha dakwah dengan damai dan bukan perang (bermusuhan). Anda mesti berdamai dengan semua orang baru anda akan dapat buat usaha.

7.     Usaha melalui ittihad dan bukan ikhtilaf. Azas usaha dakwah adalah kesatuan dan bukan perbedaan-perbedaan. Anda berusaha menjauhi perbedaan-perbedaan. Banyak perkara yang dapat kita cari yang membawa pada persatuan. Jikalau anda hendak menyatukan umat, maka sedapat mungkin menjauhkan hal-hal yang membawa kepada perpecahan.

8.      Usaha melalui musyawarah dan bukan melalui kediktatoran. Musyawarah adalah mengambil usulan (cadangan) atau pendapat sebelum membuat keputusan. Apabila sudah diambil keputusan maka semua bersifat sami’na wa atho’na. Tetapi seorang diktator tidak memerlukan musyawarah, tidak memerlukan pendapat orang lain. Dalam perkara-perkara kolektif yang menyangkut ummat, maka musyawarah adalah sangat penting.

9.      Usaha melalui amru bil ma’ruf dan bukan nahi anil munkar. Azas usaha dakwah kita adalah yad’uuna ilal khoir, menyeru kepada yang baik. Sebagaimana enam sifat kita semua ma’ruf. Apabila gelap maka adakanlah lampu. Apabila amal yang baik hidup maka amal-amal buruk akan pergi. Ketika muadzin melaungkan adzan, apa yang ia serukan? Ia tidak membuat larangan-larangan atau jangan buat ini atau itu. Dengan demikian usaha dakwah kita yaitu mengajak manusia: Hai saudara! marilah ke mesjid, mari duduk ta’lim, mari hadir dalam musyawarah, mari duduk dalam majlis, mari ikut jaulah, mari ikut keluar khuruj di jalan Allah, inilah dakwah kita. Bayi yang baru lahir memerlukan ASI (Air Susu Ibu) yang segar dari ibunya bukan daging dan buah-buahan.

10.  Ushul dan bukan Furu’. Azas usaha dakwah kita adalah usaha atas akar dan bukan cabang-cabangnya.

11.  Azas usaha dakwah kita adalah Qulyah dan bukan Juz’iyah. Hal-hal yang bersifat universal, hukum-hukum yang umum akan diterima oleh semua orang, tetapi hati-hati karena diantaranya terdapat banyak masalah yang membawa kepada khilafiah. Sebagai contoh: mengajak kepada shalat dapat diterima oleh semua orang, tetapi bahasan shalat secara detail terdapat masalah masail.

12.  Azas usaha dakwah kita adalah Ijmal dan bukan Tafshil. Ijmal artinya singkat, tepat, pendek dan bukan tafsir artinya uraian-uraian secara panjang lebar, penjelasan, argumentasi secara mendetail. Usaha dakwah adalah deklarasi (keterangan atau maklumat), karena itu mesti pendek, tepat dan ringkas.

13.  Azas usaha kita adalah Tamsir bukan Tanfir. Tamsir artinya kabar gembira dan bukan tanfir artinya kabar buruk, kebencian. Dalam usaha dakwah ini kita sampaikan kabar gembira. Memberitahukan keutamaan-keutamaan, pahala-pahala, fadhilah-fadhilah, menyampaikan perkara-perkara yang manis, supaya semua orang dapat menerimanya. Jangan kita mengkritik, menyakiti perasaan orang lain dan kita mencerca atau melukai.

14.  Azas usaha dakwah kita adalah Istidar dan bukan Ishtihar. Istidar maknanya secara senyap-senyap dan bukan Ishtihar artinya propaganda dengan publikasi untuk pamer kehebatan. Maulana Ilyas rah.a berkata: “Sekiranya usaha ini telah berjalan 1000km tetapi kita mesti merasa masih pendek.” Usaha ini adalah kerja kerohanian yang berkaitan dengan iman yakin, dan ikhlas. Sifat-sifat ini ada di dalam hati dan bukan untuk kemasyhuran.

15.  Azas usaha dakwah kita adalah Akhirat dan bukan Dunia. Setiap orang berfikir untuk memperbaiki kehidupan dunia mereka, kebalikan dari ini dimana semua nabi memberitahu manusia tentang kesenangan akhirat. Setiap orang berfikir bagaimana dunia saya dapat lebih baik, kebalikan dari ini, Da’i berfikir bagaimana akhirat saya menjadi lebih baik. Allahu a’lam.

12. TANGGUNGJAWAB UMMAT AKHIR ZAMAN

Tanggungjawab Ummat adalah Dakwah dan Tabligh ke seluruh Alam

Dakwah dan Tabligh adalah kerja Para Rasul dan Ummat Muhammad SAW. Al-qur’an dan hadits turun dalam suasana dakwah Nabi Muhammad SAW dan Shahabat, sehingga dikatakan Al-qur’an dan Hadits adalah kalam dakwah. Alqur’an menceritakan kisah 25 nabi yang buat dakwah, kisah orang shalih yang buat dakwah (ali imran, maryam, Habib annajar – surat yasin dsb), jin yang buat dakwah, binatang yang ikut dakwah (ashabul kahfi, burung hud-hud, semut –surat anmal dsb), kisah kaum yang menentang dakwah, bantahan terhadap pernyataan orang kafir dsb. Berikut ini adalah beberapa ayat dan hadits tentang pentingnya dakwahdan tabligh :

A. Dakwah adalah yang paling ditakuti oleh orang kafir
[QS 42:13] Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat (takut) bagi orang-orang musyrik terhadap apa (agama) yang kamu dakwahkan (kamu seru) kepada mereka. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (ASY SYUURA (MUSYAWARAT) ayat 13)
Orang musyrik paling takut dengan dakwah karena jika kewajiban dakwah (sesuai sunnah) sudah disampaikan kepada mereka maka :
- Jika ia menerima dakwah islam maka ia akan Berjaya dunia dan akhirat
- Jika ia menolak dakwah islam, maka pasti ia akan di adzab dengan adzab yang pedih didunia dan akhirat. Inilah yang mereka (Yahudi, nasrani, majusi dsb) takuti!
B. Tanggung Jawab/medan Dakwah Ummat Muhammad
1.Dakwah pada diri sendiri dan keluarga
[QS 66:6] Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS Attahrim ayat 6)
2. Dakwah kepada Jiran/tetangga, sahabat dan orang-orang dekat/kerabat
[QS 26:214] Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, (QS Asysu’ara 214)
3. Dakwah kepada Umat didaerah sendiri dan daerah lain
[QS 6:92] Dan ini (Al Quraan) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quraan) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya. (QS Al an’am 92).
4. Dakwah kepada Ummat diseluruh dunia
[QS 3:110] Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk seluruh manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS Ali imran 110).
C. Dakwah adalah maksud diciptakannya (tugas) ummat Muhammad SAW
1.Maksud diciptakannya manusia adalah untuk ibadah
[QS 51:56] Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Qs adzariyat 56).
[QS 24:41] Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS An Nur 41)
2. Maksud diciptakannya manusia adalah sebagai khalifatullah (wakil-wakil Allah dimuka bumi)
[QS 2:30] Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Qs albaqarah ayat 30)
3. Maksud diciptakannya Ummat Muhammad adalah untuk dakwah
[QS 12:108] Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS Yusuf 108)
[QS 3:110] Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk seluruh manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS Ali imran 110).
Hasan Basri Rahmatullah alaih mengatakan : “Barang siapa yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran maka dialah khalifatullah, dan dialah khalifaturrasul dan dialah khalifatul kitab (al-qur’an)” . (Bahkan perkataan ini terdapat pada kitab amr bil ma’ruf nahi ‘anil munkar – Ibnu taymiyah).D. Dua Amalan Orang Mukmin yang Allah SWT juga mengamalkannya

1.Allah SWT Berdakwah
[QS 10:25] Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam) (QS Yunus 25].
2. Allah SWT bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW
[QS 33:56] Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (Surat Al-ahzab 56)
E. Dakwah (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran) adalah tugas semua muslim bukan tugas ulama saja (Tugas ulama adalah mengajar dan menunjukan jalan yang lurus (fatwa-fatwa) dsb.) 
1. Ayat al-qur’an
[QS 16:125] Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (An-nahl 125).
[QS 51:55] Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. (Adz-adzaariyat 55)
[QS 74:1-3] Hai orang yang berkemul (berselimut) (2) ,bangunlah, lalu berilah peringatan! (3) dan Tuhanmu agungkanlah!
2. Hadits Nabi
- Dari Anas ra. beliau meriwayatkan bahwa kami berkata : “Wahai Rasulullah, adakah betul kami tidak berhak (patut) mengajak kepada kebaikan sehingga kami mengamalkan semua kebaikan dan kami tidak berhak (patut) mencegah kemungkaran sebelum kami meninggalkan semua kemungkaran? Maka Baginda SAW menjawab : “Tidak, bahkan serulah kepada kebaikan walaupun kalian belum mengamalkan semua kebaikan dan cegahlah kemungkaran walaupun kalian belum meninggalkan semuanya dengannya (HR Imam athabrani dalam al ausath dan jami’ush shaghir)
- Dari abi sa’id al khudry Ra. berkata saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : Barangsiapa melihat kemungkaran dihadapannya maka rubahlah dengan tangannya. Sekiranya tidak mampu maka rubahlah dengan lidahnya. dan sekiranya tidak mampu maka rubahlah dengan hatinya dan yang sedemikian itu selemah-lemahnya iman (HR Imam Muslim).
F. Kesalahan memahami ayat Al-qur’an (QS al Maidah 105)
Dari Abu bakar ashidiq Ra. berkata : “wahai manusia! Kalian membaca ayat ini :
“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS Al maidah 105)
Sungguh aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda : “Sesungguhnya manusia apabila melihat orang berbuat dhalim. tetapi ia tidak menghentikan kedhaliman itu dengan tangannya, maka hampir saja Allah SWT. menimpakan adzabnya secara menyeluruh (HR Tirmidzi katanya hadits ini shahih. Bab Turunya adzab ketika kemungkaran tidak dicegah, Hadits nomor 2168).
Keterangan :
Makna dhahir ayat alqur’an dalam hadits diatas adalah : “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS Al maidah 105)
Kalau memang pengertiannya seperti itu , mengapa mereka diperintahkan melakukan tugas amar ma’ruf nahi munkar. Oleh karena itu apabila seseorang melakukan tugasnya (amar ma’ruf nahi munkar), tetapi orang yang diajaknya tidak mau mengikuti, maka ia tidak akan dipersalahkan, karena ia telah melaksanakan tugasnya. Karena sesungguhnya kewajibannya hanyalah menyuruh (kepada kebaikan) dan melarang (dari kemungkaran), bukan memaksa orang untuk menerimanya . Wallahu a’lam (An-nawawi -Syarah muslimII/22, Syaikh Yusuf alkhandahlawi-muntakhob ahadits, hadits no. 19 bab dakwah dan tabligh)
G. Jika dakwah ditinggalkan
1. Diharamkan keberkahan wahyu (Tidak bisa memahami al-qur’an dan hadits)
- Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra. beliau berkata bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda :
“Apabila ummatku mengagungkan dunia maka akan dicabut darinya kehebatan islam, apabila mereka meninggalkan amr bil ma’ruf (mengajak kepada kebaikan) dan nahi ‘anil munkar (mencegah kemungkaran maka diharamkan atasnya keberkahan wahyu dan apabila mereka saling caci mencaci maka jatuhlah mereka dari pandangan Allah swt. (HR Hakim dan Tirmidzi – Dari kitab Durrul mantsur).
2. Diadzab sebagaimana diadzabnya Bani israil
Dari Urs bin ‘amirah ra. berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengadzab masyarakat banyak disebabkan kejahatan segelintir orang, sehingga segelintir orang itu melakukan suatu kejahatan yang sebenarnya mampu dicegah oleh masyarakat banyak, tetapi mereka tidak berusaha mencegahnya. Ketika terjadi demikian, maka Allah akan membinasakan semuanya, masyarakat banyak dan segelintir orang tersebut” (HR Imam thabrani dan sanad-sanagnya tisqat/terpercaya – majmauz zawaa’id VII/528).- tafsir (surat al Maidah [5] :78).
[QS 5:78] Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.
3. Doa tidak dikabulkan
Dari Hudzaifah bin al yaman ra. dari Nabi saw., beliau bersabda : ” Demi dzat yang nyawaku dalam kekuasaannya! kalian harus menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran ! atau (jika tidak), Allah akan mengirimkan pada kalian adzab dari-Nya, kemudian kalian berdoa (meminta tolong kepada-Nya), tetapi Dia tidak menerima doa kalian (HR Tirmidzi, katanya hadits ini hasan. Bab tentang amr ma’ruf nahi munkar, hadits nomor 2169).
4. Dibangkitkan pemimpin yang dhalim
Hadzat abu darda ra. salah seorang shahabat yang masyhur berkata : “Tetaplah kamu menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Kalau tidak Allah Swt akan membangkitkan pemimpin (raja) yang dhalim yang memerintah kamu. Dia (aja dhalim) tidak akan menghormati orang tua kamu dan tidak akan menaruh belas kasihan kepada yang muda-muda dikalangan kamu. Pada masa itu, doa orang-orang shalih tidak akan diterima, Kamu inginkan bantuan tapi bantuan tidak akan diberikan, kamu mohon keampunan tetapi Allah swt tetapi kamu tidak akan diampuni”.
[47:7] Hai orang-orang mu’min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (Qs. Muhammad ayat 7).
5. Pintu hidayah tertutup, banyak orang islam murtad
6. Orang islam banyak yang mati tanpa mengucapkan kalimah tayyibah
7. Orang-orang munafiq banyak memberontak (pada pemimpin/khalifah)
8. Orang kafir berani menyerang/membunuh orang islam
9. Muncul Nabi-nabi palsu/aliran-aliran sesat.
10. Kemaksiatan merajalela
11. Keberkahan rezeki dicabut (Harga barang-barang naik, susahnya mendpatkan makanan dicabut
dsb)…

11. SILSILLAH USAHA DAKWAH DAN TABLIGH

SILSILAH USAHA DAKWAH DAN TABLIGH
(SHAHIH, ADA SANAD DARI MAULANA ILYAS SAMPAI RASULULLAH SAW)
Usaha dakwah dan tabligh ialah satu usaha yang sangat mulia.Ia bukanlah satu gerakan, persatuan maupun jamaah tabligh` kerana usaha ini telah dibuat oleh para anbiyaa`(Nabi) alaihish shollatu wassalam yang telah dihantar oleh Allah subhanahu wata’ala sebanyak 124.000 yaitu mengajak manusia supaya kenal Allah, beriman dengan Allah, yakin dengan kudrat Allah, yakin penyelesaian masalah ada di dalam amal agama bukan di dalam `maal`(kebendaan). Ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah diberi peluang untuk buat usaha yang sangat mulia ini kerana sebelum kita diwujudkan (dilahirkan dimuka bumi), usaha ini hanya ditugaskan oleh Allah untuk para Anbiya alaihish shollatu wassalam, yang mana mereka termasuk orang yang maksum dan suci.
               Selama ini banyak keraguan banyak orang mengenai silsilah kerja Nabi ini. Banyak yang mencemooh orang yang melakukan kerja dakwah yang mulia ini. Sesungguhnya usaha ini adalah usaha yang haq (benar) dan merupakan hadiah terbesar untuk Ummat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Usaha ini mempunyai silsilah bersambung sampai kepada Baginda shallallahu ‘alaihi wasallam. Maulana Ilyas rahmatullah ‘alaih berkata bahwa “Usaha yang aku buat ini bukan usaha yang dibuat sekarang. Andai aku lakukan usaha yang ada sekarang maka aku bukan kedepan, malah aku ketinggalan sejauh 1400 tahun. Inilah ketinggian fikir seorang penyambung usaha yang mulia.” Perlu kita ketahui juga bahwa ada beberapa amalan tariqat yang juga mempunyai silsilah sampai kepada Rasulullah. Tapi itu bukan maksud utama untuk ummat ini diutus, sehingga Allah letakkan ummat ini pada satu kedudukan yang tertinggi dibanding ummat terdahulu.
               Telah diturunkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in dan terus pada para Ulama’ hingga saat ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada hari perhimpunan Haji Wada’, 9 Dzulhijjah tahun 9 Hijrah, hari jum’at, selepas shalat ashar “Sampaikan dari ku walaupun satu ayat..”

Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam
||
Abdullah bin ‘Umar bin al-Ash radhiyallahu ‘anhu
||
Abu Qasiyyah rahmatullah ‘alaih
||
Hassan bin Autiyyah rahmatullah ‘alaih
||
Auza’i rahmatullah ‘alaih
||
Dahhak bin Makhlash rahmatullah ‘alaih
||
Amirul Mukminin Fi Hadits wa Imamul Muhaditsin,
Muhammad bin Isamail bin Al-Barzabah Al-Bukhari rahmatullah ‘alaih
||
Muhammad bin Yusuf Al-Qarbawi rahmatullah ‘alaih
||
Muhammad bin Ahmad At-Tarukhi rahmatullah ‘alaih
||
Muhammad Abdullah Muhammad bin Muzaffar Al-Ra’udi rahmatullah ‘alaih
||
Abdul Awwal Abdul Rahman bin Isa al-Harawi rahmatullah ‘alaih
||
Abu Hussain bin Mubarak Al-jabiili rahmatullah ‘alaih
||
Muhammad bin Ibrahim At-Tanukhi rahmatullah ‘alaih
||
Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Hajar Al-Ashqolani Al-Khinani rahmatullah ‘alaih
||
Zainul Abidin Muhammad bin Zakariyya Al-Ansari rahmatullah ‘alaih
||
Syamsuddin Muhammad bin Ahmad Ar-Romawi rahmatullah ‘alaih
||
Muhammad bin Ahmad bin Quddus rahmatullah ‘alaih
||
Ahmad Al-Qusyayi rahmatullah ‘alaih
||
Ibrahim Al-Qurdi rahmatullah ‘alaih
||
Abu Tahir bin Ibrahim Al-Qurdi rahmatullah ‘alaih
||
Maulana Muhammad bin Abdul Rahim rahmatullah ‘alaih
||
Syah Waliyullah Muhaditsin Al-Dehlawi rahmatullah ‘alaih
||
Maulana Abdul Aziz Al-Dehlawi rahmatullah ‘alaih
||
Maulana Muhammad Bin Ishaq Al-Dehlawi rahmatullah ‘alaih
||
Maulana Muhammad bin Ali Al-Dehlawi rahmatullah ‘alaih
||
Maulana Abdul Ghani Al-Dehlawi rahmatullah ‘alaih
||
Maulana Rasyid Ahmad Gangohi rahmatullah ‘alaih
||
Maulana Muhammad Ilyas bin Ismail Al-Kandahlawi rahmatullah ‘alaih
||
Maulana Muhammad Yusuf bin Ilyas Al-Kandahlawi rahmatullah ‘alaih
||
Maulana ‘Inamul Hassan Al-Kandahlawi rahmatullah ‘alaih
||
Maulana Muhammad Saad Al-Kandahlawi dan Maulana Zubairul Hassan Al-Kandahlawi (ulama yang menjadi syura usaha dakwah dan tabligh sekarang)

Seorang islam yang sebenarnya tidak sepatutnya menunggu banyak bukti untuk beriman dan beramal. Apa yang dibawa oleh Rasulullah sepatutnya diikuti tanpa adanya bukti-bukti yang lain. Katakanlah “aku beriman kepada Allah dan RasulNya tanpa bukti dan dalil”….
Wallahu’alam….

10. KEPUTUSAN MUSYAWARAH INDONESIA

Keputusan Musyawarah

Ba’da Dzuhur, 4 Oktober 2011

Araham masyaikh adalah amanah yang mesti kita jalankan. Arahan ini merupakan kelanjutan dari arahan sebelumnya. Jika ada yang sama maka itu merupakan penekanan, jika beda merupakan pergantian, dan jika belum ada sebelumnya merupakan menyempurnaan.

Azas kerja: Praktek dalam dakwah bukan bayan dan mudzakarah.

Tertib mengikuti sunnah Nabi Muhammad saw, yaitu:

  1. Umumiyyat : Jangan berdakwah kepada golongan tertentu saja. Jangan membeda-bedakan orang Islam. Utamakan dakwah kepada orang miskin dan ini merupakan sarana mendekati Allah.
  2. Sabar dan Tahammul : Membalas keburukan dengan kebaikan.
  3. Ijtima’iyyah : Berdakwah dengan kelembutan. Jika ada orang kasar kepada kita maka dimaafkan dan didoakan.

Amal Maqomi

Kepada penanggungjawab agar bertugas untuk memperhatikan amal maqami. Jika ada kekurangan dilengkapi, jika ada kelemahan ditingkatkan. Setiap orang menentukan waktu maqominya dan dipegang erat-erat.

  1. Musyawarah Harian: Tujuannya agar dapat mengeluarkan jemaah cash. Agenda musyawarah harian: Laporan kunjungan, tujuan kunjungan akan datang, petugas taklim, dan takaza-takaza lain. Musyawarah semua jemaah masjid.
  2. Silaturahmi 2.5 jam : Menetapkan waktu kunjungan. Istiqamah. Semua rumah dikunjungi. Semua laki-laki baligh dikunjungi
  3. Jaulah 1 dan 2 : Dibuat dengan penuh kerisauan. Telah ada doa jauh sebelum jaulah. Pengeluaran jemaah setelah jaulah. Rute jaulah 2 ke tempat yang belum masuk atau belum ada amal masjidnya. Lamanya 5 – 6 minggu di satu tempat.
  4. Usaha memakmurkan masjid : Orang dibawa ke masjid dan dakwah disampaikan di masjid. Jika tidak bisa datang ke masjid dakwah diberikan ditempat bertemu. Untuk membuat Dakwah Taklim Istiqbal (DTI) dibutuhkan 8 (delapan) orang Islam yang bersedia walau belum ikut keluar.
  5. Nusrah Jemaah : Jemaah diberi kebebasan waktu hingga kerja dakwah bisa disempurnakan (tidak harus 2 atau 3 hari saja). Jemaah gerak di muhala atau halaqah kita diberi bayan hidayah agar: 1) bekerjasama dengan orang tempatan untuk praktek 2.5 jam dan 5 amal; 2) hendaklah jemaah gerak melibatkan seleuruh orang Islam; 3) jemaah tidak pindah sebelum amal maqami bisa berjalan; 4) ajak karkun tempatan untuk bekerjasama dengan jemaah.
  6. Hadir Malam Markaz : Datang dengan jemaah masjid dengan membawa tasykilan baru dan makanan buat makan bersama. Usahakan ke markaz membawa jemaah cash.
  7. Kerja sama antar daerah : Propinsi yang kuat membantu propinsi yang lemah selama dua tahun. Halaqah yang kuat membantu halaqah yang lemah. Muhallah yang kuat membantu muhallah yang lemah.
  8. Masturoh : 1) Istiqomah taklim rumah dan mudzakarah 6 sifat shahabat dan laki-lakinya hadir dalam taklim tersebut. 2) Setiap tiga bulan keluar masturoh secara istiqomah.
  9. Taklim Rumah : 1) Dibuat mudzakarah 6 sifat. 2) Tasykil masturoh dan Rijal dari setiap rumah. 3) Petugas taklim dimusyawarahkan sebelumnya. 4) Buku Fadha’il A’mal dan Muntakhab dibaca secara bergantian.
  10. Taklim muhallah masturat mingguan : Menghadirkan wanita dari semua kalangan, buku fadhail amal dan muntakhab dibaca bergantian. Syarat taklim masturah muhallah : Ada jemaah masjid, ada beberapa wanita 10/15/40/2 bln yang dapat menghandle. Di rumah orang yang telah keluar dan senang menjadi tuan rumah. Program : Taklim kitabi, Mudzakarah, Bayan, Tasykil (rijal, masturoh, dan hidup taklim rumah). Mudzakaroh 6 sifat oleh wanita yang telah menikah. Bayan diberikan oleh laki-laki yang faham kerja masturah.
  11. Jur Masturah : Program : Taklim, bayan, tasykil, tafaqud, tanggal keberangkatan, jaga nishab, amal rumah, doa. Jumlah 30 – 35 pasang. Dibuat 1 s/d 2 kali dalam satu tahun.
  12. Pengeluaran Jemaah : Rumah yang digunakan adalah rumah orang yang pernah keluar masturah, memenuhi syarat rumah, bukan rumah kosong. Jangan membebani tuan rumah akan perkhidmatan. Jangan memakai handphone.
  13. Usaha pelajar : Hendaknya pelajar dilibatkan dalam usaha maqami.
  14. Usaha Ulama : 1 tahun selanjutnya 4 bulan tiap tahun.
  15. Negeri Jauh : Indonesia hendaknya mengirim jemaah ke Taiwan dan Laos secara berkesinambungan dan tidak terputus. Jemaah rijal boleh 4 bulan atau 40 hari. Jemaah masturah juga boleh.
  16. Buat maktab-maktab Al Quran di setiap masjid muhallah.
  17. Jika ada perbedaan pendapat dalam tertib hendaknya di kembalikan ke penanggung jawab daerah lalu ke syura Indonesia lalu ke Masyaikh di Nizamuddin.

 

9. DEOBAND INDIA, PUSAT HADITS DUNIA

Deobandi dan Sejarah Kebangkitan Islam di India-Pakistan (Sebuah Sketsa Awal)

Deobandi merupakan sebuah gerakan keagamaan yang lahir di ‘Deoband’ (Uttar Pradesh) India, bermula dari sebuah madrasah dengan nama Darul Ulum Deoband. Dengan banyaknya pengikut dan pengaruh madrasah ini maka tidak heran kalau akhirnya institusi seperti Deoband kemudian berkembang menjadi sebuah pergerakan religius yang besar dan menyebar hampir disetiap komunitas Muslim Sunni di Pakistan. Disamping para pengikut kelompok lainnya seperti Barelwi, Jama’ah Tabligh dan lain-lain. Tidak diragukan lagi dengan kehebatan para ulama mereka, tercatat bahwa pendiri Barelwi, Tablighi Jamaat dan lainnya merupakan hasil didikan madrasah Darul Ulum Deoband.

Berikut ini sedikit ikhtisar tentang sejarah, perkembangan dan kiprahnya dalam menegakkan Shariat Islam yang berpedoman pada Quran dan Sunnah, begitu juga dengan perjuangannya untuk kemerdekaan bangsa dari kolonialisme yang saat itu berekspansi di Sub-Continent. Disamping juga pertanyaan seputar Deobandisme ‘sebuah kepercayaan atau sekte’ serta eksistensi mereka sekarang ini, sedikit banyak juga akan dibahas disini.

Darul Ulum Deoband; Batu Pertama Revivalisme Islam

Darul Ulum Deoband didirikan pada 30 Mei 1867 pada sebuah masjid kecil di kota Deoband oleh Maulwi Fadlur Rahman, Maulwi Zulkfikar Ali dan Maulwi Muhammad Mahmud. Murid pertama yang mengemban ilmu di madrasah ini adalah Syeikhul Hind Maulana Mahmud-ul-Hasan dan kemudian pada akhir tahun jumlahnya meningkat hingga 78 pelajar. Disebutkan bahwa sebenarnya cikal bakal berdirinya Daar-ul-Ulum Deoband merupakan buah pemikiran Maulana Muhammad Qasim Nanotwi (1833-1877), yang mana beliau berharap tidak adanya beban finansial bagi pelajar dan pengajarnya sehingga proses belajar mengajar dapat terlaksana dengan penuh takwa dan ikhlas karena Allah swt. Kemudian pada tahun 1880 Maulana Muhammad Qasim meninggal dan posisinya digantikan oleh Maulana Rashid Ahmed Gangohi (1829-1905).

Sekitar tahun 1867 Darul Ulum Deoband memulai belajar dari bawah pohon pada sebuah Masjid Chatta, dan ketika masjid ini tidak dapat menampung lagi jumlah pelajar yang semakin bertambah hari demi hari akhirnya dibangunlah masjid lainnya yang kemudian berpindah pada tahun 1874. Perkembangan pesat terjadi pada jumlah pelajar yang terus berdatangan di madrasah ini sehingga ia harus mulai mengepakkan sayapnya dengan pembangunan-pembangunan gedung dan penambahan fasilitas belajar seperti gedung fakultas Hadist yang telah diseleseikan pada tahun 1931 dan gedung fakultas Tafsir. Pada tahun 1940, Raja Zahir Shah Afghanistan telah membangun Gerbang madrasah yang kemudian diberi nama ‘Baab-uz-Zahir’.
Darul Ulum juga dikenal dengan sebutan Qasim-ul-Ulum yang diambil dari nama Maulana Muhammad Qasim Nanotwi sebagai pendirinya dan institusi ini merupakan institusi religius dengan sistem pendidikan yang bagus. Perlu diingat bahwa Deobandi adalah pengikut madzhab fiqh Abu Hanifa, sedangkan untuk aqidah mereka mengikuti Abu Mansur Maturidi. Sekitar seribu pelajar lebih mengemban pendidikan di madrasah ini sedangkan yang empat ratus nya mendapatkan fasilitas asrama. Pelajar yang berdatangan kesini bukan hanya berasal dari India tapi juga dari berbagai negara muslim lainnya seperti Afghanistan, Afrika Selatan dan Inggris. Jamiah Millia Nawakhali dan Madrasah Qasim-ul-Ulum Muradabad juga termasuk cabang dari institusi ini.

Ada beberapa ajaran yang dipegang kuat oleh Deobandi dan dianggap sebagai elemen dasar mereka, yaitu: (i) Tauhid, konsep yang mereka fahami sebagai Abrahamic monotheism bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat menyerupai sifat-sifat Nya. (ii) Mengikuti Sunnah, yaitu menerapkan dan mengamalkan ajaran Rasulullah Sallalluhu Alaihi Wassalam. (iii) Mencintai para Sahabat Rasulullah Sallalluhu Alaihi Wassalam dengan mengikuti tindak-tanduk mereka. (iv) Taqlid wal Ittiba’, memberikan preferensi kepada salah satu yurisprudensi Islam yang terdahulu. (v) Jihad fi Sabilillah, mengerjakan jihad yaitu berjuang di jalan Allah Swt.

Metode pengajaran yang digunakan dalam madrasah ini yaitu mengikuti sylabus belajar-mengajar pada zaman Rasulullah Sallallahu Alaihi Wassalam hingga abad ke-10 Hijriyah; yang menitikberatkan pada sistem belajar tradisional dalam Islam yaitu menghubungkan nalar rasionil dan ilmu tradisional (traditional science). Adapun buku-buku pokok yang diajarkan pada setiap kurikulumnya sekitar 11 buku hadist dan beberapa buku tambahan untuk materi-materi lainnya, sedangkan kurikulum lengkapnya mencapai 81 buku yang akan dipelajari. Dibawah kuasa Maulana Rashid Ahmad Gangohi institusi ini meniadakan mata pelajaran seperti ilmu logika dan filsafat seperti yang dilakukan oleh Shah Wali Allah pada Rahimiyah yaitu dengan menekankan belajar al-Qur’an, Hadist dan Fiqh.

Rizvi memaparkan tiga metode yang mereka terapkan pada institusi ini: (i) primer (yaitu memahami kandungan isi buku), (ii) tingkat menengah (mengerti isi buku dan topik disamping juga naskah buku), (iii) tingkat tinggi (lebih menekankan pada diskusi dan pemahaman yang mendalam).

Bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Urdu, maka setiap pelajar harus mengerti dan bisa menggunakan bahasa tersebut baik dari dalam negri maupun luar negri. Dan disebutkan bahwa Deoband merupakan institusi pendidikan pertama kali di India yang tidak menarik biaya kepada pelajarnya selama lebih dari se-abad. Pada akhir abad ke-19 banyak madrasah-madrasah yang dikenal dengan Deoband dari Peshawar hingga Madras, dan mereka terdaftar mencapai 8934 madrasah, primer maupun tingkat lanjut, sampai sekarang-pun masih terus menyebar dengan satu karakteristiknya yaitu merupakan divisi utama bagi ulama sub-continent.

Memang harus diakui, keselamatan umat Islam ini tergantung dari pengorbanan ulama umat, seperti apa yang bisa dilihat di India. Kemerdekaan India dari Inggris adalah berkah perjuangan dan pengorbanannya ulama-ulama India pada saat penjajahan Inggris yang selalu menyuarakan jihad kepada rakyat India yang Muslim. Dan pusat lahirnya ulama-ulama India adalah dari Darululum Deoband.

Darululum Deoband adalah madrasah yang tertua diseluruh negeri India bahkan boleh dikatakan salah satu dari madrasah yang tertua di seluruh dunia. Darululum Deoband didirikan tahun 1866, Deoband adalah nama kampung yang terletak di Provinsi Uttar Pradesh.

Pada penjajahan Inggris di India keadaan umat Islam pada saat itu sangat rusak. Inggris berhasil memecahbelahkan kesatuan umat Islam India dan berhasil menjahui umat Islam dari kehidupan Islam seperti mana Belanda berhasil merusak kesatuan umat Islam di Indonesia ketika zaman penjajahan dulu.

Kerusakan umat Islam di India inilah yang membuat timbulnya kerisauan seorang Ulama India bernama Almarhum Syaikh Maulana Muhammad Qosim untuk menyelamatkan umat Islam dari kerusakan. Suatu malam, Syaikh Maulana Muhammad Qosim Nanutwi bermimpi berjumpa dengan Rasulullah saw. Dalam mimpinya, ia diperintahkan oleh Rasulullah untuk memulai madrasah. Akhirnya Maulana Muhammad Qosim dengan santri pertamanya Maulana Mahmudul hasan memulai madrasah di bawah sebuah pohon yang rindang di tengah-tengah kampung Deoband. Karena keikhlasnya dan pengorbanan Maulana Muhammad Qosim, Allah Allah SWT menolong ulama ini kembali menghidupkan cahaya Islam di India yang telah redup. Sampai sekarang Darul Ulum Deoband telah berhasil mencetak 15.000 ulama termasuk Syaikh Ustadz Nik Aziz, ketua partai PAS, Malaysia.

Suasana Madrasah Deoband

Dan ulama-ulama alumni Darul Ulum Deoband telah menyebar di seluruh dunia dan membuka madrasah-madrasah di seluruh dunia. Semua madrasah-madrasah di Pakistan, Bangladesh, Burma, Afghanistan, Srilanka, Afrika selatan, Inggris, Thailand, Malaysia merupakan hasil dan dampak baik secara langsung atau tak langsung dari Darul Ulul Deoban. Bahkan terbentuknya negara Pakistan juga salah satu hasil dari pengorbanan ulama-ulama Deoband.

Madrasah Darul Ulum Deoband menjadi pusat mahzab Hanafi dan terkenal dengan ilmu hadistnya sehingga kelas yang tertinggi di madrasah Deoband adalah kelas hadist yaitu kelas yang hanya mempelajari kitab kitab hadist. Dan banyak muhadisin (ulama pakar hadis) yang telah lulus dari Deoband, seperti Almarhum Syaikh Maulana Anwar Shah Kasymiri beliau seorang ulama yang mengajar kitab Bukhari di madrasah Deoband dan beliau hafal semua hadist-hadist yang ada dalam kitab Bukhari.

Kelebihan lain dari Darul Ulum Deoband adalah turut melahirkan para pengarang kitab agama yang terkenal diseluruh India, seperti Almarhum Syaikh Maulana Asyrof Ali Thanvi, beliau berhasil mengarang hampir 1000 kitab dalam bahasa Arab maupun Urdu.

Di antara murid Ashraf Ali Thanwi yang menetap di seluruh bagian Asia Selatan adalah

Abdul Hai Arifi

Maulana Zafar Ahmad Utsmani

Qari Muhammad Tayyib Qasimi, cucu dari pendiri Darul ‘Ulum Deoband, Muhammad Qasim Nanotvi, dan pokok kepala Dar al-‘ Ulum Deoband selama lebih dari 50 tahun, dari awal 1930-an ke 1980-an

Muhammad Maseehullah Khan Sherwani (pendiri Madrasah al-‘Ulum Miftah di Jalalabad, India, dan seorang tokoh spiritual terkemuka abad yang lalu)

Muhammad Syafi’i, kepala mufti dari Dar al-‘Ulum Deoband dan pendiri kemudian dari Dar al-‘ Ulum Karachi

Abdul Bari Nadvi (teolog dan filsuf terkenal di India yang mengajar filsafat modern di Osmania University di Hyderabad dan menerjemahkan buku-buku para filsuf Barat seperti Descartes, ke dalam bahasa Urdu dan tertinggal saluran sastra banyak)

Allamah Syed Sulaiman Nadvi, peneliti dan mahasiswa Syibli Nu ‘mani

Maulana Faqir Muhammad, Peshawar, Pakistan

Muhammad Ilyas al-Kandhlawi Rahmatullahialahi (pendiri Gerakan Jamaat Tabligh)

Qazi Abdusalam Nowshera

Hafiz Tanweer Ahmed Khan Khalifa Majaz Molana Muhammad Masihulah Khan, Hyderabad, Pakistan

Maulana Abraruhaq Hardoi, khalifah terakhir dan termuda Ashraf Ali Thanvi yang mendirikan Ashraful Madaris Hardoi dan memimpin gerakan Dawatul Haq, yang didirikan oleh Ashraf Ali Thanvi

Khawja Aziz ul Hassan Majzuoob

Syed Ali Shah Inayat Gujranwala, Pakistan Wrote Buku Bagh-e-Jannat

Darul Ulum Deoband juga berhasil mencetak dai dan para mubaligh yang sudah tersebar seluruh India, bahkan dunia, seperti Almarhum Syaikh Maulana Ilyas pemimpin dan pencetus pertama Jamaah Tabligh. Syaikh Maulana Ilyas adalah salah satu alumni madrasah Deoband yang risau dengan keadaan umat Islam dan memulai langkahnya di dalam dakwah dan tabligh. Sampai kini, gerakan Jamaah Tabligh mengirimkan dai ke seluruh India, Pakistan, bahkan ke berbagai penjuru dunia. (Harnes Yudha)

http://www.sabili.co.id/aspirasi-anda/sumbangan-madrasah-darul-ulum-deoband-pada-dunia-islam

8. BERINFAK DIJALAN ALLAH

Allah berfirman :

الَّذينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعينَ مِنَ الْمُؤْمِنينَ فِي الصَّدَقاتِ وَ الَّذينَ لا يَجِدُونَ إِلاَّ جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَ لَهُمْ عَذابٌ أَليمٌ

 “(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.

(QS. At-Taubah [9]: 79)

Keimanan bukan hanya ucapan, ritual, dan gerakan lahiriah yang menandakan keyakinan kepada Allah. Akan tetapi, keimanan adalah menjalankan semua perintah Allah dan berlomba-lomba dalam menjalankan kewajiban-kewajiban agama ini dengan segala kemampuan yang dimiliki seorang mukmin. Seseorang harus bersungguh-sungguh dalam berkhidmat pada agama Allah, walaupun hanya dengan satu tutur kata yang baik atau doa yang ikhlas. Dengan demikian, Allah akan menolong dan mengurus segala keperluan dan kepentingan orang yang beriman.

Ayat al-Qur’an di atas menjelaskan salah satu fenomena agung keimanan, yaitu berinfak di jalan Allah dengan penuh kerelaan hati. Infak ini merupakan infak sukarela, bukan zakat. Namun orang-orang munafik dan orang-orang berhati busuk akan mengolok-ngolok orang-orang yang bersedekah seperti itu.

Seperti dikutip dalam Tafsir Fi Zhilal al-Qur’an Juz 3, hal. 1681, ketika melakukan persiapan untuk perang Tabuk, Rasulullah sangat menganjurkan kaum muslim agar berinfak. Datanglah ‘Abdurrahman bin ‘Auf membawa uang sebanyak empat ribu (dinar/dirham). Ia berkata, “Ya Rasulullah, aku punya uang sebanyak delapan ribu (dinar/dirham). Aku ingin menyerahkan separuhnya kepadamu dan separuhnya lagi aku simpan.” Rasulullah bersabda, “Semoga Allah memberkati uang yang engkau simpan dan uang yang kau berikan.”

Lalu datanglah Abu ‘Uqail membawa satu sha’ kurma. Ia berkata, “Ya Rasulullah, aku punya dua sha’ kurma. Satu sha’ aku sedekahkan di jalan Allah dan satu sha’ lagi aku simpan untuk keluargaku.” Orang-orang munafik mencelanya. Mereka berkata, “Apa yang dilakukan ‘Abdurrahman bin ‘Auf hanyalah perbuatan riya.” Mereka juga berkata, “Bukankah Allah dan Rasul-Nya tidak membutuhkan satu sha’ ini?”

Demikianlah orang-orang munafik mencela orang yang banyak harta karena sedekahnya banyak dan merendahkan orang yang memiliki sedikit harta karena sedekahnya sedikit. Siapa pun yang berbuat baik tidak luput dari celaan mereka, sementara mereka sendiri duduk-duduk saja sambil berpangku tangan. Kalaupun berinfak, tujuan mereka adalah riya, dan mereka hanya memiliki motif yang rendah seperti itu. Oleh karena itu, mereka mendapatkan jawaban yang telak: “Allah membalas penghinaan mereka itu. Untuk mereka ada azab yang pedih.” (QS. At-Taubah [9]: 79).

Tidak seorang mukmin pun yang luput dari celaan orang-orang munafik, bahkan mencapai puncaknya, hingga ditimpakan kepada makhluk terbaik, Rasulullah. Dari Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah membagikan sedekah, Dzul Khuwaishirah al-Taimini datang. Ia berkata, “Berbuatlah adil, ya Rasulullah!” Rasulullah bersabda, “Celakalah kamu. Siapa lagi yang bisa berbuat adil bila aku tidak adil?” Umar berkata, “Izinkan aku untuk memenggal kepalanya.” Rasulullah bersabda, “Biarlah Umar, karena ia punya kelompok yang mungkin saja seseorang dari kalian shalat dan puasa bersama mereka. Mereka akan keluar dari agama ini seperti anak panah yang lepas dari busurnya.” Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Tentang mereka, turunlah ayat: ‘Di antara mereka ada yang mencela (pembagian) sedekah.’ (QS. At-Taubah [9]: 58).

Seorang mukmin tidak boleh kehilangan pahala. Hal ini dapat dilakukan dengan partisipasi dalam perbuatan-perbuatan baik, dan bersedekah itu sendiri. Kita menemukan teladan yang utama pada diri Rasulullah, yaitu dalam peristiwa hijrah. Ketika itu, beliau memberitahukan kepada Abu Bakar bahwa beliau akan berhijrah. Abu Bakar berkata, “Ambillah salah satu kendaraanku.” Akan tetapi, beliau bersabda, “Aku akan membayarnya.”

Rasulullah ingin berpartisipasi dengan berinfak untuk kepentingan ini. Beliau memberi sesuatu tanpa takut miskin dan bederma dengan segala sesuatu yang dimilikinya di jalan Allah. Rasulullah bukan orang miskin seperti yang diduga sebagian orang. Sebaliknya, beliau adalah orang kaya yang memiliki harta melimpah. Pada suatu hari, beliau mendapat uang sebanyak sembilan puluh ribu dirham. Lalu, beliau menyuruh seseorang agar menyimpannya di atas tikar masjid. Beliau pergi ke sana dan membagi-bagikan uang tersebut kepada masyarakat. Beliau tidak pernah menolak peminta-minta dengan memberi harta yang dimilikinya.

Ada seseorang datang ke majelis dan meminta sesuatu. Rasulullah bersabda, “Aku sudah tidak memiliki sesuatu pun yang dapat kuberikan kepadamu. Akan tetapi, belilah sesuatu yang kau butuhkan dengan berutang atas namaku.” Orang-orang yang hadir kagum atas kemurahan Rasulullah, di luar yang mereka bayangkan. Ketika itu, Umar berkata, “Ya Rasulullah, engkau telah membagikan uang kepada orang-orang. Allah tidak membebanimu melebihi kemampuanmu.”

Mendengar ucapan Umar, air muka Rasulullah berubah tanda tak senang. Kemudian, seseorang dari kalangan Anshar berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, teruslah berinfak!” Jangan takut miskin selama engkau yakin kepada Pemilik Arasy.” Mendengar ucapan itu, beliau tersenyum dan wajahnya berseri. Beliau bersabda, “Untuk inilah aku diperintahkan.”

Pada tahun kesembilan hijriah, Rasulullah bersiap-siap untuk memerangi Romawi. Kondisi ketika itu sedang sulit. Beliau memerlukan biaya besar untuk memobilisasi pasukan. Lalu, beliau mengajak kaum muslim agar membantu pasukan dengan harta dan perbekalan menurut kemampuan masing-masing. Umar memberikan separuh kekayaannya kepada Rasulullah. Beliau bertanya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?” Umar menjawab, “Aku tinggalkan separuh kekayaanku untuk mereka.” Lalu Abu Bakar memberikan seluruh kekayaannya kepada Rasulullah untuk biaya mobilisasi pasukan. Rasulullah bertanya, “Hai Abu Bakar, apakah yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?” Abu Bakar menjawab, “Aku serahkan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Ketika turun ayat: ‘Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya.’ (QS. al-Baqarah [2]: 245), seorang sahabat dari kalangan Anshar, Abu al-Dahdah bertanya, ‘Apakah Allah menginginkan pinjaman dari kita?’ Rasulullah menjawab, ‘Benar, wahai Abu al-Dahdah.’ Lalu Abu al-Dahdah berkata, ‘Julurkan tanganmu kepadaku, ya Rasulullah!’ Ketika Rasulullah menjulurkan tangannya, Abu al-Dahdah berkata, ‘Aku meminjamkan kebunku kepada Tuhan.’ Di kebunnya ada enam ratus pohon kurma. Ketika itu, istri dan anak-anak sedang ada di kebun tersebut. Abu al-Dahdah segera mendatangi mereka dan berkata, ‘Hai istriku, pergilah dari kebun itu karena aku telah meminjamkannya kepada Tuhan!’ Ia menghampiri anak-anaknya lalu mengeluarkan kurma yang ada di mulut mereka, dan mengeluarkan semua yang ada di saku baju mereka. Lalu, istri Abu al-Dahdah berkata, ‘Jual beli yang menguntungkan! Jual beli yang menguntungkan!’ Tentang Abu al-Dahdah, Rasulullah bersabda, “Betapa banyak pepohonan rindang di surga untuk Abu al-Dahdah.” (HR. Ahmad dan Muslim dikutip dari Shifah al-Shafwah, Juz 2, hal. 309).

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Allah berfirman, ‘Berinfaklah wahai manusia, niscaya akan dibalas’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Dalam hadits lain, Rasulullah juga bersabda, “Ketika hamba memasuki waktu subuh, dua malaikat turun. Satu malaikat berdoa, ‘Ya Allah, gantilah rezeki orang yang berinfak.’ Malaikat yang lain berdoa, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang kikir’.” (HR. Muslim).

Dengan demikian, orang yang beriman tidak perlu memedulikan omongan, pujian, atau celaan orang-orang. Cukuplah Allah yang menyaksikan perbuatannya. Sebab, jika merasa bangga dengan pujian orang-orang, amalnya akan menjadi sia-sia. Sebaliknya, jika ia terpengaruh oleh celaan mereka, ia tidak akan mau beramal sehingga mendapat rugi besar. Hal itu karena di antara manusia ada orang yang tidak menyukai perbuatan baik dan tidak membiarkan orang baik melakukan kebaikan.

7. BAYAN K.H UDZAIRON

DENGAN USAHA DAKWAH, IMAN AKAN TERJAGA DAN MENINGKAT

Setiap manusia yang mau hidup tenang, damai, dan bahagia mereka harus mempunyai Iman yang benar. Menurut para ulama Iman itu ada rasanya, seperti gula yang rasanya manis dan garam yang rasanya asin. Kalau Iman ini tidak ada rasanya, ini berarti palsu Imannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada sahabat, “Bagaimana rasanya Iman kamu hari ini.” Lalu sahabat menjawab, “Saya  merasa betul-betul beriman ya Rasullullah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “apa buktinya ?” Sahabat menjawab, “Saya merasa dunia ini sudah tidak ada artinya.” Sahabat ketika malam, mereka Tahajjud semalam suntuk, dan ketika siang dalam keadaan berpuasa. Sahabat tidur malam tidak yakin dapat hidup hingga pagi, bangun pagi tidak yakin bisa hidup sampai malam. Ketika melangkahkan kaki kanan rasanya tidak yakin masih bisa hidup ketika melangkahkan kaki kiri. Ketika mengucapkan salam ke kanan dalam sholat rasanya tidak yakin masih bisa memberi salam ke kiri. Inilah keimanan para sahabat, dan rasa dari Iman mereka.

Thalhah radhiyallahu anhu dipukulin oleh musuh hingga mengucapkan kata “Ah / Aduh“, Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam langsung menegurnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membuat pelurusan iman, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mahfum, ”Andai kata kamu mengucapkan “Bismillah” ketika itu, maka kamu akan di angkat ke langit oleh Allah ta’ala dan akan diselamatkan dari orang kafir.” Inilah pendidikan keimanan yang diberikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ingin para sahabat ini dalam segala keadaan tawajjuh kepada Allah Ta’ala. Seperti Nabi Musa ‘alaihis salam setiap ada masalah selalu menyelesaikan masalah dengan do’a, tawajjuh kepada Allah. Orang yang Ahlul Iman ciri-cirinya adalah selalu menyelesaikan masalah dengan do’a dan sholat. Beda dengan orang yang tidak beriman, mereka akan menyelesaikan masalahnya dengan asbab atau mahluk. Syekh Abdul Wahab rahmatullah ‘alaih selalu berkata belajar menyelesaikan masalah dengan sholat sampai sholat kita benar-benar menyelesaikan masalah. Cukup dengan sholat jika diterima ini sudah bisa menjadi asbab terselesaikan segala masalah. Jika setelah sholat kita masih ada rasa perlu menyelesaikan masalah dengan cara lain berarti yakin kita masih salah. Yakin yang benar cukup dengan sholat saja, tidak perlu yang lain, masalah dapat selesai. Asbab orang beriman untuk menyelesaikan masalah adalah amal, sedangkan yang bukan orang beriman asbab penyelesaian masalah adalah mahluk.

Semua manusia bisa percaya pada yang namanya keimanan, namun tidak semua dari mereka bisa merasakan apa itu Iman. Hari ini banyak manusia mati dalam keadaan tidak bisa merasakan Iman, ini di karenakan mereka tidak buat usaha atas Iman. Mati dalam keadaan rindu pada Allah hanya bagi yang bisa merasakan Iman. Sahabat bertanya kepada Hudzaifah radhiyallahu anhu dalam keadaan hampir meninggal, “Wahai Hudzaifah, apakah kamu menangis karena takut mati?” Hudzaifah radhiyallahu anhu menjawab, ”Tidak, aku menangis bukan karena takut mati. Aku sebenarnya mencintai mati, aku menangis karena khawatir, apakah aku mati dalam keadaan Allah Ta’ala ridha kepadaku atau tidak?” Seorang sahabat yang lain ketika menjelang ajalnya dia berkata kepada istrinya untuk tidak menangisinya karena kematiannya. Dia berkata hari kematiannya merupakan hari yang paling berbahagia baginya karena setelah mati dia akan berjumpa dengan orang yang dicintainya yaitu Allah, Rasul, dan para sahabat yang telah mendahuluinya. Sahabat bisa merasakan manisnya Iman sehingga mereka mencintai mati. Sahabat beranggapan hanya dengan kematian mereka dapat bertemu dengan yang mereka cintai yaitu Allah dan RasulNya. Saad radhiyallahu anhu pernah mengirim surat kepada panglima Persia yaitu Jendral Rustum, yang isinya, “Aku akan mengirimkan pasukan yang mencintai mati sebagaimana kalian mencintai arak.”

Hari ini setiap manusia hidup dalam ketakutan sehingga dia mati-matian usaha untuk menghilangkan rasa takutnya. Hari ini apa yang paling di takutkan manusia yaitu takut miskin dan takut susah. Sehingga asbab ketakutan ini, mereka mati-matian mengumpulkan harta. Padahal untuk menghilangkan rasa takut ini mudah saja, tidak perlu kerja mati-matian kerja, tidak perlu uang yang banyak, cukup dengan agama saja. Agama ini adalah solusi bagi seluruh rasa takut manusia. Dengan agama nanti Allah akan ganti rasa takut miskin dan rasa takut susah dengan rasa kaya dan rasa tenangnya penghuni Surga di dunia. Apa itu rasa cukup dan tenangnya penghuni surga, yaitu ketika Allah bertanya kepada mereka di surga, “Apa lagi yang kalian mau ?” maka para penghuni surga akan bingung mau apa lagi karena mereka sudah merasa mendapatkan semua yang mereka mau, sudah merasa cukup. Begitu pula dengan orang beriman yang telah Allah masukkan rasa cukup dan tenang kedalam hati mereka maka mereka akan bingung mau apa lagi. Lalu diakherat dia akan Allah jadikan orang yang kaya dan berkuasa. Allah akan buatkan istana untuknya, yang di dalam istana ini terdapat lagi 70 puluh istana, dan setiap istana mempunyai 70 kamar. Semuanya qualitas satu, dari wanita-wanitanya, makanan-makananya, pelayan-pelayannya, sampai pada kebendaannya. Dengan Agama, Allah jadikan kita manusia yang kaya di dunia dan akherat, tidak perlu susah-susah seperti di dunia.

Hari ini manusia takut sakit, sehingga mereka menggantungkan hidupnya pada seorang dokter. Padahal dokter-dokterpun kini pada sakit. Mau sehat cukup amal kan Agama, di dunia akan Allah kasih kesehatan. Suatu ketika seorang tabib keliling madinah dalam keadaan bingung, karena tidak satupun orang ada yang sakit. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata mahfum kepada dokter itu, “ini dikarenakan mereka mengamalkan sunnahku, mereka makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang.” Lalu nanti di akherat Allah akan berikan kita Kesehatan yang luar biasa. Badan seperti Adam alaihis sallam  setinggi 30 meter, kekuatan seperti Musa alaihis sallam, suara seperti Daud alaihis sallam, wajah seperti Yusuf alaihis sallam, dan umur seperti Isa alaihis sallam.

Jadi Agama ini adalah solusi bagi seluruh rasa ketakutan dan masalah manusia. Untuk dapat mengamalkan agama ini perlu yang namanya Iman. Maulana Saad berkata, “Bagaimana Iman dan Agama bisa wujud dalam diri kita jika waktu kita sebagian besar masih digunakan untuk Dunia. Sementara waktu untuk agama hanya 2.5 Jam.” Orang memberi alasan tidak bisa mengamalkan agama karena keadaan dan lingkungan. Alasan-alasan ini tidak akan diterima di pengadilan Allah nanti. Seperti kisah :

1. Ada orang kaya mengadu pada Allah tidak bisa mengamalkan agama dengan alasan karena disibukkan oleh kekayaannya. Lalu Allah berkata, “HambaKu Sulaiman alaihis sallam lebih kaya dan lebih sibuk dari kamu, tetapi kekayaan dan kesibukkannya tidak membuat dia lalai dari perintahKu.”

2. Ada orang sakit yang mengadu pada Allah tidak dapat mengamalkan agama dengan alasan karena kesehatannya tidak memungkinkan. Lalu Allah berkata, “HambaKu Nabi Ayub alaihis sallam lebih sakit darimu dan lebih parah penyakitnya dibandingkan dirimu tetapi penyakitnya tidak melalaikannya dari mengingatKu.”

3. Ada orang yang semasa hidupnya menjadi budak (bahasa modernnya pembantu atau karyawan ) mengadu kepada Allah tidak dapat mengamalkan agama karena tidak bebas melakukan sesuatu. Lalu Allah berfirman, “Hambaku Yusuf alaihis sallam juga pernah menjadi budak, namun keadaannya tidak melalaikan dia dari beribadah kepadaKu.”

4. Ada orang yang mengadu kepada Allah tidak dapat mengamalkan agama dengan alasan karena kemiskinannya. Lalu Allah Ta’ala berfirman, “Hambaku Isa alaihis sallam lebih miskin darimu dan lebih susah kehidupannya, tetapi kemiskinan dan kesusahan yang dialaminya tidak melalaikannya dari beribadah kepadaKu.”

 

Sehingga nanti orang-orang yang memberikan alasan-alasan ini semuanya akan Allah seret kedalam Neraka Jahannam. Di pengadilan Allah nanti semua orang akan Allah hisab dengan keras dan cepat. Allah akan tanya mereka seperti :

1. Kemana engkau habiskan waktumu atau umurmu ?

2. Kemana engkau habiskan masa mudamu dan untuk apa ?

3. Dari mana asal hartamu dan digunakan untuk apa ?

4. Dari mana didapat ilmumu dan bagaimana pengamalannya ?

 

Disini Allah tidak menginginkan alasan tetapi yang Allah inginkan adalah jawaban. Tidak ada satupun alasan yang akan diterima oleh Allah. Manusia yang tidak menghabiskan waktunya untuk Allah pasti telah menghabiskan waktunya untuk selain Allah. Orang-orang yang menghabiskan waktunya atau umurnya dengan ketaatan atau amal-amal Agama maka mereka akan mudah melewati hisab. Begitu juga masa muda kita, ketika masih kuat dan sehat kemana kita telah habiskan kekuatan dan kesehatan kita dan untuk apa. Salah satu pemuda yang Allah sukai adalah pemuda yang senantiasa hatinya terpaut pada mesjidnya Allah Ta’ala. Lalu mengenai harta, harta yang di dapati dengan cara haram ini akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah. Allah akan hisab semuanya dari hasil yang dengan didapat dengan jalan haram seperti mencuri, korupsi, menipu, sampai hasil yang didapat dengan cara halal sesuai dengan perintah Allah dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka yang di zalimi akan mendapatkan bagian atau atau hak atas diri kita dan amal-amal kita. Allah juga akan menghisab seluruh harta yang digunakan bukan untuk agama Allah atau menjalankan perintah Allah.

Jadi jangan sampai tertipu dengan harta seseorang, itu hanya ujian dan titipan dari Allah. Orang yang paling kaya di dunia maka dia akan menjadi orang yang paling sibuk menjawab pertanyaan Allah mengenai hartanya didapat dari mana dan kemana ia habiskan. Begitu juga mengenai Ilmu agama, Allah akan menanyakan kebenaran ilmu itu, dan didapat dari mana. Amal yang tidak disertai Ilmu tidak akan diterima oleh Allah, dan Ilmu yang tidak menambah ketakwaan orang yang berilmu akan mendatangkan Murka Allah. Ilmu yang tidak diamalkan menjadi mubazir dan bisa menjadi asbab kita bertemu dengan Allah dalam keadaan Allah murka kepada kita. Allah berfirman mahfum, “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” Di akherat tidak akan diterima alasan, “Saya tidak tahu Perintahnya ?” masalahnya kenapa kita tidak cari tau.

Inti dari pengadilan Allah ini letaknya adalah dalam pengamalan Agama. Orang yang sudah biasa mengamalkan agama secara sempurna ketika hidup maka dia akan melewati Hisab dengan mudah. Kehidupan yang sukses di dunia adalah kehidupan yang dapat membawa kita masuk ke dalam surganya Allah Ta’ala. Seperti apa kehidupan yang sukses itu, yaitu kehidupan yang penuh dengan amal agama. Untuk membuat suasana kehidupan yang penuh amal agama di perlukan kerja Dakwah. Dengan Dakwah Iman akan naik, suasana amal akan wujud, akhlaq manusia akan baik, manusia akan berbondong-bondong masuk Islam, dan pertolongan Allah akan datang.

Pahala umat akhir zaman ini 50 kali derajatnya lebih tinggi dari para sahabat. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda mahfum, “Sungguh beruntung, beruntung, beruntung, orang yang pernah melihatku tetapi ia mau beriman kepadaku. Namun sungguh lebih beruntung (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutnya hingga 7 kali) lagi, orang yang tidak pernah melihatku tetapi ia mau beriman kepadaku.” Dalam hadits lain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Aku rindu pada kekasih-kekasihku.” Lalu sahabat bertanya, “Bukankah kami ini adalah kekasih-kekasihmu, ya Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Kalian adalah sahabatku, kekasihku adalah mereka yang tidak pernah bertemu denganku, tetapi mereka mengimani aku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada sahabat, “Iman siapakah yang paling Afdhol / utama ?” para Sahabat menajawab :

1. “Imannya para Malaikat.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Bagaimana Iman para malaikat bisa dibilang afdhol sedangkan mereka dapat melihat dan mendengar Allah langsung.”

2. Lalu para sahabat menjawab lagi, “Imannya para Nabi.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Bagaimana Imannya para Nabi bisa dibilang Afdol sedangkan Allah telah memberi mereka wahyu.”

3. Lalu para sahabat menjawab lagi, “Imannya para sahabat.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Bagaimana Iman mereka (para sahabat) bisa dibilang afdhol sedangkan mereka pernah berjumpa denganku dan pernah melihat mukjizat-mukjizatku.”

4. Lalu para sahabat bertanya, “Iman siapakah yang afdhol kalau begitu ya Nabiullah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Yaitu mereka yang tidak bertemu dengan Allah, tidak pernah menjumpaiku, dan tidak pernah melihat mukjizat-mukjizatku tetapi mereka mau beriman kepadaku.”

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menganggap kita lebih beruntung dari sahabat, iman kita dinyatakan sebagai iman yang paling afdhol, dan kita ini dipanggil sebagai kekasihnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tetapi hari ini amal perbuatan kita tidak mencerminkan orang pantas dibilang sebagai kekasih Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, atau orang yang beruntung, atau orang yang mempunyai iman yang afdol. Karena kehidupan kita hari lebih banyak mencerimankan kehidupan musuh-musuh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Untuk perkara ini perlu kita buat kerja dakwah.

Allah telah berikan kepada umat ini 3 jabatan :

1. Khalifatullah : Pemimpin Allah di muka bumi

2. Na’ib Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : Penerus Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

3. Warisul Kitab : Pewaris Kitab / Mandat

Allah telah wariskan dunia ini kepada orang beriman sebagai wakil Allah dimuka bumi. Bagaimana caranya menjadi wakil Allah ini ? caranya sudah Allah terangkan di dalam Al Qur’an dan di contohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita ini adalah wakil dan petugas-petugas Allah di muka bumi. Maka kita harus bertindak dan berlaku seperti petugas. Makan seperti petugas, tidur seperti petugas, pakaian seperti layaknya seorang petugas, kerja seperti seorang petugas, dan hidup seperti seorang petugas.

Syekh Abdul Wahab, Amir Pakistan, berkata, “Kita harus tingkatkan niat kita dari seorang da’i menjadi seorang Na’ib atau penerus Nabi.” Seseorang jika dia bisa mengajak satu orang untuk taat kepada Allah sudah bisa dibilang sebagai da’i. Tetapi yang kita perlukan adalah bukan hanya da’i tetapi Na’ib atau penerus Nabi. Kita ini penerus dakwah nabi, penerus jaulah nabi, penerus taklim nabi, penerus musyawarah nabi, penerus sholat nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan lain-lain. Sehingga nanti ketika kita niat untuk meneruskan sholatnya Nabi, maka Allah akan sempurnakan sholat kita seperti sholatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari derajat sholatnya, kekhusyuan sholatnya, tertib sholatnya, dan lain-lain. Niatkan diri kita tinggi-tinggi karena nanti Allah akan bangkitkan kita seperti apa yang kita niatkan. Seseorang niat untuk menjadi hafidz namun belum selesai jadi hafidz dia sudah meninggal, maka nanti Allah akan bangkitkan dia bersama para hafidz. Jika kita niat untuk memahami Qur’an dan niat menyebarkan keseluruh manusia, maka nanti Allah akan buat kita faham Al Qur’an dan menyebarkannya keseluruh alam. Dalam mahfum hadits Allah berfirman, “Aku ini seperti prasangkaan hambaku terhadapku…” Jika kita niat untuk menjadi penerus nabi maka nanti Allah akan sempurnakan niat kita. Allah akan sempurnakan amal seseorang tergantung dari apa yang dia niatkan.

Allah telah berikan umat ini kitab yang utama yang menjadi penutup kitab-kitab terdahulu. Al Quran ini isinya adalah seluruh perintah Allah kepada umat ini sebagai pewaris kitab. Qur’an ini adalah mandat dari Allah kepada orang beriman untuk di pelajari, di pahami, dan di sampaikan kepada seluruh manusia sebagai panduan hidup. Dengan Qur’an ini Allah akan buat hati manusia ini tenang dan bercahaya. Qur’an ini juga akan menjadi saksi buat kita terhadap kesalahan-kesalahan umat terdahulu.

Untuk dapat menyampaikan mandat ini kepada seluruh manusia ini diperlukan kerja dakwah. Allah telah angkat derajat umat ini dengan kerja Dakwah. Allah panggil kita dengan, “Choiru Ummah”, sebaik-baiknya ummat, karena diberikan tanggung jawab Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. Namun amal yang telah mengangkat derajat umat ini malah kita tinggalkan. Jika kita ke pasar tidak ada niat untuk dakwah atau minimal benci dalam hati, maka seluruh dosa orang di pasar akan kita tanggung dengan sempurna walaupun kita tidak melakukannya. Jika kita melihat rumah ibadah agama lain lalu kita ucapkan “La Illaha Illallah La Ma’buda Illallah”, maka Allah akan catat sebagai niat memberantas seluruh kejahatan dan kemusyirikan dimuka bumi. Penting kita masuk pasar baca do’a dan niat mau dakwah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamdi angkat ke langit setelah melalui Mujahaddah yang tinggi, Allah buka seluruh hijab antara Dia subhanahu wa ta’ala dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada lagi pembatas. Hakekat Iman akan datang setelah kita melewati Mujahaddah dalam mengamalkan agama. Sahabat mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa dia telah disiksa dan diperlakukan buruk oleh orang kafir, namun dia tidak pernah membalas, bahkan mendo’akan kebaikan untuk orang yang menyiksanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata mahfum, “Jika kamu terus berbuat itu, maka Allah akan kirim malaikat untuk bantu kita.” Orang buat salah lalu kita maafkan, maka ini adalah kesempatan masuk surga tanpa hisab. Seorang sahabat sudah dibilang sebagai penghuni surga karena amalannya sebelum tidur dia selalu memaafkan semua kesalahan orang yang mendzalimi dia.

Untuk dapat mengamalkan agama ini diperlukan keikhlasan. Orang yang mengamalkan agama tanpa keikhlasan ini seperti orang yang membawa koper berisi batu. Orang yang membawa koper ini akan terlihat seperti orang yang banyak uang, bawa koper kemana-mana. Padahal setelah di buka isinya batu, mau beli apa-apa tidak laku. Inilah orang yang mengamalkan agama tetapi tidak ada keikhlasan.

Lakukan dakwah dengan sifat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

1. Sifat Sabar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di tolak dakwahnya oleh orang Thaoif, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dihina-hina mereka, bahkan di timpuki hingga puluhan kilometer sampai keluar kota.. Namun bagaimana nabi mendo’akannya kepada Allah, “Ya Allah jangan engkau hukum umatku, ini disebabkan karena mereka tidak tahu. Ini adalah salahku karena kelemahanku dalam menyampaikan. Semoga suatu saat nanti keturunan mereka dapat memeluk agamaMu.” Inilah Akhlaq, Iqrom, Nabi SAW setelah disakiti oleh orang yang mendzoliminya.

2. Ikhlas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a setelah ditimpuki dari Thoif : “Ya Allah biarkan yang lain marah kepadaku, asalkan Engkau tidak marah kepadaku, maka jika yang lain marah kepadaku tidak apa-apa (Tidak ada masalah).” Inilah keikhlasan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berdakwah.

Manusia ini karena terbuat dari tanah sehingga mempunyai sifat yang berubah-ubah seperti tanah. Tanah ini jika kena panas dia akan kering, jika kena hujan dia akan menjadi lembek dan basah. Inilah sifat tanah selalu berubah-ubah berdasarkan keadaan. Manusia hari ini begitu imannya, masih suka terpengaruh dan berubah-ubah oleh suasana dan keadaan.

Maulana Ilyas bilang :

“Benteng terbesar bagi orang beriman ini adalah Dakwah. Hidupkan suasana dakwah maka Iman ini akan terjaga.”

Dakwah ini jika benar dilaksanakan dan tertib maka musuh bisa menjadi kawan. Sedangkan dakwah yang tidak dilaksanakan dengan benar bisa membuat kawan menjadi musuh. Jika Iman dan Amal ini benar dikerjakan maka tambah hari tammbah rindu sama yang namanya mati dan akherat. Tanda Dakwah ini benar semakin hari semakin sayang kepada umat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangking sayangnya kepada umat melihat orang meninggal tanpa iman rasanya mau hancur hati jadinya. Bagaimana risau dan fikir nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bisa masuk ke dalam diri kita ini perlu usaha, latihan, dan pengorbanan. Tujuan keluar ini adalah latihan agar risau nabi bisa menjadi risau kita, fikir nabi bisa menjadi fikir kita, kerja nabi bisa menjadi kerja kita, dan kesedihan nabi bisa menjadi kesedihan kita. Orang yang keluar terus di jalan Allah tidak mau buat Maqomi maka akan timbul sifat sombong. Tetapi orang yang hanya mengerjakan Maqomi saja dan tidak mau keluar di jalan Allah, tidak akan bisa lari dari sifat syirik. Namun jika orang tersebut keluar juga dan Maqomi juga maka akan lahir sifat Tawakkal.

Sudah menjadi ketentuan Allah siapa saja yang mau menjadi hafidz qur’an, maka langkah pertama yang dia harus lakukan adalah menyediakan waktu untuk membaca dan menghafal qur’an. Seseorang jika ingin menjadi petani maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyediakan waktu untuk bertani. Begitu juga dengan pedagang, pengusaha, dan lain-lain. Maka jika kita ingin menjadi penerus Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, penting kita siapkan waktu untuk meneruskan kerja Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

KH. Udzairon,Musyawarah Indonesia, Mesjid Al Muttaqien, Ancol, JAKARTA, 4 Mei 2002